Senin, 10 Oktober 2011

megah nya stadion di inggris


Dari 20 team yang berlaga di English Premiership, hanya Vicarage Road, stadion Watford yang mempunyai kapasitas di bawah 20.000 orang. Sisanya di atas 40.000, bahkan Old Trafford dan Emirates Stadium mampu menampung hingga di atas 60.000 orang.

Apabila dibandingkan dengan Gelora Bung Karno yang mampu menampung lebih dari 100.000 orang, dari segi kuantitias mereka memang kalah jauh, namun apakah dari segi kualitas Gelora Bung Karno mampu menandingi salah satu stadion dari ke 20 team di EPL?
Bicara mengenai kualitas memang tidak adil apabila membandingkan stadion-stadion yang ada di EPL dengan Gelora Bung Karno atau semua stadion sepakbola secara keseluruhan di tanah air. Sebagai Negara yang yang melahirkan sepakbola, Inggris dengan EPL-nya sudah menjadi salah satu magnet yang kuat bagi para pemain-pemain bintang yang ingin menambah pundit-pundinya dengan berlaga di salah satu team di Premiership. Selain permainan yang makin hari makin menarik, stadion yang berkualitas dengan fasilitas yang menjanjikan juga menjadi salah satu alasan para pemain tersebut untuk merumput di Liga Inggris.

Satu-satunya stadion di Liga Inggris yang mempunyai kapasitas paling besar di Inggris Raya adalah Old Trafford yang memiliki 76.000 tempat duduk. Terletak di Greater Manchester, stadion yang diberi nama Theatre of Dreams oleh Sir Bobby Charlton ini, sudah menjadi markas Manchester United sejak tahun 1910, terlepas dari masa 8 tahun yang di alami klub ini dimana dari tahun 1941 sampai 1949, mereka terpaksa sharing dengan Manchester City di Maine Road, karena Old Trafford saat itu terkena bom tentara Jerman.
Saat ini Old Trafford adalah satu-satunya stadion yang menyandang gelar bintang 5 versi UEFA untuk urusan stadion di Inggris, dimana hanya stadion ini di yang berhak dan diberi ijin oleh UEFA untuk menggelar partai Liga Champion Eropa di tanah Inggris.
Rekor penonton terbanyak sepanjang masa stadion ini berdiri adalah pada 25 Maret 1939 dimana Wolverhampton Wanderers berhadapan dengan Grimsby Town di semi final FA Cup, dengan total jumlah penonton 76.962 orang. Sedangkan pada masa kini, rekor terbesar dicetak pada 1 Oktober 2006 kemaren dimana sebanyak 75.644 orang menyaksikan pertandingan kandang Manchester United melawan Newcastle United.
Para supporter setia United selalu memilih tempat di satu area yang dinamakan The Stretford End. Tempat ini selalu menjadi area yang paling ramai apabila United memainkan pertandingan kandangnya. Sebelum Old Trafford dipenuhi dengan seluruh tempat duduk, Stretford End adalah tempat utama para penonton yang mendapatkan tiket berdiri. Sekarang ini tempat itu sudah berubah nama menjadi West Stand, namun semua orang disana masih menyebutnya sebagai Stretford End. Konon tempat yang paling tinggi tingkat kebisingannya adalah berasal dari West Stand, dan kabarnya tingkat desibelnya melebihi pesawat Jumbo Jet yang sedang lepas landas. Sebutan King of the Stretford End hanya diberikan kepada 2 pemain United, mereka adalah Denis Law dan Eric Cantona.
Sebagai pemilik klub sekaligus pemilik stadion, Manchester United sudah memantapkan dirinya sebagai salah satu klub terkaya di dunia, terlepas dari tidak konsistennya permainan mereka belakangan ini.

Stadion terbesar kedua di Inggris dipegang oleh sebuah stadion yang baru saja diresmikan pada awal musim ini, tidak lain adalah The Emirates Stadium yang dimiliki sepenuhnya oleh klub yang mempunyai pendukung terbesar di London, Arsenal.
Dengan jumlah tempat duduk 60.432 buah, Emirates Stadium menjadi rumah baru dari Arsenal yang dengan terpaksa pindah karena Highbury tidak dapat di renovasi untuk diperbesar dikarenakan sisi timur stadion tersebut adalah perumahan dan para penduduk sekitar menolak untuk pindah, dan sebenernya tanah yang ada di atas Highbury memang sudah menjadi rencana pemerintah kota London untuk membangun bangunan tinggi. Kabar yang beredar mengatakan bahwa Arsenal menjual setiap 1 meter persegi rumput yang berada di Highbury kepada fans setianya untuk dijadikan memorabilia, dan tidak hanya itu, semua yang ada di stadion lama turut dijual untuk dijadikan barang koleksi, untuk diketahui bahwa di Inggris, barang-barang yang berhubungan dengan sepakbola selalu dihargai dengan nilai yang tinggi. Jadi tidaklah heran apabila nanti di London akan dijumpai orang yang menjual bekas kursi di Higbury dengan harga yang tinggi.
Kembali ke Emirates Stadium, yang mengambil nama dari sponsor utama Arsenal saat ini, salah satu perusahaan penerbangan dari Timur Tengah yang musim lalu mensponsori Chelsea, mempunyai nama asli Ashburton Grove, karena terletak di jalan dengan nama yang sama.
Salah satu bagian unik dari stadion ini adalah karena memiliki area yang paling exclusive yang dinamakan Diamond Club, yang mana tidak sembarang orang bisa masuk dan menonton pertandingan dari tempat, hanya terbatas pada para undangan dan memakan biaya 25.000 pounds untuk masuk dan diharuskan membayar 25.000 pounds lagi untuk menjadi member tahunan. Fasilitasnya memang menakjubkan, dari lounge pribadi, mendapatkan complimentary di bar dan restoran di stadion, valet parking dan juga pelayanan concierge, dan untuk member juga bisa menyaksikan pertandingan tandang Arsenal untuk piala champion Eropa dengan menumpang pesawat yang sama dengan para pemain.
Peresmian stadion ini sendiri akan dilaksanakan pada 26 Oktober mendatang oleh Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip, Duke of Edinburgh, kedatangan sang Ratu adalah untuk mengenang Pangeran Wales yang juga meresmikan West Stand of Highbury pada tahun 1932.
Dengan adanya stadion baru ini, Arsenal sangat berharap pemasukan yang besar dari para fansnya yang berbasis di London yang rata-rata mempunyai uang lebih untuk menjadi member premium, apalagi dengan adanya 150 executives boks yang mampu menampung 2000 lebih para jutawan yang ingin menonton Arsenal, bukan tidak mungkin biaya untuk membuat stadion baru yang menelan sekitar 310 juta pounds akan kembali dalam musim pertamanya.

This is Anfield, siapa yang tidak kenal slogan yang diproklamirkan oleh Bill Shankly di era 70an dan 80an, di saat Liverpool menjadi klub Inggris yang paling ditakuti lawan yang bertandang ke Anfield. Sejarah Anfield berawal dari sebuah taman umum yang bernama Stanley Park, dimana pada saat itu baru tahun 1884 Liverpool masih mempunyai satu tim bernama Everton, namun karena Chairmannya pada saat itu John Houlding tidak disukai, dia memutuskan pindah dari Anfield dan memilih ke seberang Stanley Park dimana Goodison Park berdiri hingga sekarang, sejak saat itu Anfield mempunyai klub baru yang bernama Liverpool sesuai dengan nama kota asal Beatles. Dikarenakan pertengkaran dari jaman dahulu, Liverpool dan Everton menjadi rival dan termasuk klub-klub yang diperhitungkan di Liga Inggris.
Anfield Road
Berbicara soal Anfield yang mempunyai kapasitas sebanyak 45.362 kursi, stadion ini juga dimiliki sepenuhnya oleh klub yang mempunyai semboyan You’ll Never Walk Alone. Salah satu tempat berdiri yang terkenal di stadion ini adalah Kop Stand, di ambil dari nama tempat Spion Kop, yang mana pada saat Perang Boer II, banyak sekali tentara Inggris yang mati di Spion Kop dan kebanyakan adalah berasal dari daerah Lancashire, yang juga biasa disebut sebagai Scousers. Selain Anfield, penamaan Kop pada tempat berdiri atau Stand juga bisa dijumpai di St.Andrews, Birmingham dan Hillsborough, Sheffield.
Kop Stand sendiri tadinya mampu menampung sekitar 28.000 penonton dan termasuk salah satu tempat berdiri terbesar di dunia, namun sejak tragedy Hillsborough tahun 1989, daya tampung di Kop Stand dikurangi dan dijadikan menjadi semua tempat duduk pada tahun 1994, walaupun masih merupakan bagian dari tempat berdiri, Kop Stand masih mampu menampung The Kop sebanyak 12.409 orang.
Nasib yang sama seperti Arsenal akan dialami juga oleh Liverpool dikarenakan mengalami kesulitan untuk menambah kapasitas tempat duduk di Anfield, dimana mereka harus menghancurkan banyak rumah penduduk apabila ingin meneruskan rencana ekspansinya, dan itu banyak ditolak oleh warga, mungkin kebanyakan pendukung Everton tampaknya tinggal di dekat situ. Liverpool diperkirakan akan meninggalkan Anfield dalam 2 tahun ke depan, dimana saat ini mereka sedang mencari sponsor untuk bisa membantu dana sebesar 160 juta pounds untuk membangun stadion dengan kapasitas 60 ribu orang.
Sempat muncul berita bahwa ada yang menyarankan untuk shared stadion dengan Everton di Goodison Park, namun usulan ini ditolak mentah-mentah oleh Badan Direksi Liverpool tahun lalu, karena itu sama saja dengan memberikan gelar tidak resmi kepada Everton sebagai pemilik sejati klub sepakbola asal kota Liverpool.

The Bridge, demikan nama lain dari Stamford Bridge, kandang sang jawara Liga Inggris 2 kali berturut-turut yang terletak di The London Borough of Hammersmith. Dengan kapasitas tempat duduk sebesar 42.091, tadinya the Bridge adalah stadion terbesar di kota London sebelum Emirates Stadium milik Arsenal berdiri, yang menjadikan stadion ini berada di 10 besar stadion terbesar di Inggris.
Awal dari stadion ini adalah hanya untuk atletik pada tahun 1877 dimana menjadi markas dari London Athletics Club hingga tahun 1904. Sejak tahun tersebut, stadion yang akhirnya dikuasai oleh Gus Bersaudara dan Joseph Mears menjadi sebuah stadion sepakbola yang sangat bagus pada jamannya. Pada tahun 1930, ekspansi untuk membuat stadion menjadi lebih besar dimulai dengan dibangunnya lebih banyak stand untuk para fans, dan lahirlah The Shed, dimana tempat ini menjadi tempat paling favorit bagi para fans berat Chelsea hingga akhirnya harus dihancurkan pada tahun 1994 dikarenakan tragedy Hillsbourough. Namun nama The Shed tidak ikut hilang dan masih terbukti hingga saat ini dimana para supporter paling setia Chelsea selalu duduk disitu.
Ekspansi besar-besaran dimulai hingga tahun 70an dimana akhirnya Chelsea mengalami kesulitan keuangan, dan menyebabkan kepemilikan stadion dan klub menjadi pecah. Dimana stadion dikuasai oleh developer property. Pada saat Ken Bates membeli club ini tahun 1982, dia tidak sekalian membeli Stamford Bridge, dan itu menyebabkan kepemilikan stadion semakin kuat dipegang oleh developer property. Ini menyebabkan pertengkaran lewat pengadilan antara Bates dan Marler Estates, pemilik Stamford Bridge, dimana akhirnya perusahaan itu bangkrut pada awal 90an, dan membuat Bates bisa negosiasi dengan Bank dan membeli Stamford Bridge. Saat itu sebuah organisasi non profit didirikan oleh para pecinta Chelsea, mereka memegang hak atas nama Chelsea FC, itu disebabkan oleh ketakutan mereka agar Chelsea tidak sampai jatuh ke tangan developer property lagi, tidak terbayang apabila Chelsea berubah nama menjadi nama salah satu agen rumah.
Stand yang paling terkenal adalah Mathew Harding Stand, dimana tadinya dikenal dengan nama North Stand. Dinamakan dari Director Chelsea, Mathew Harding yang meninggal pada 22 October 1996 karena kecelakaan helicopter. Harding berjasa banyak sebelum akhir hidupnya demi membuat Chelsea menjadi besar hingga sekarang.

Stadion lainnya yang mempunyai daya tampung cukup besar sebesar 52.394 kursi adalah St. James Park milik the Toon Army, Newcastle United. Digunakan pertama kali oleh klub ini setelah penggabungan 2 klub kota itu, Newcastle East End dan Newcastle West End pada tahun 1892, walaupun Stadion ini sudah digunakan sejak tahun 1880.
Newcastle membeli sebidang tanah di sekitar St,James Park untuk membangun hotel dan fasilitas lainnya untuk mendukung keberadaan klub, misalnya dengan membangun bar yang dinamakan Shearer’s untuk menghormati legenda Newcastle Alan Shearer pada tahun 2005 lalu.

City of Manchester Stadium adalah markas baru bagi Manchester City yang mana juga merupakan kompleks olahraga di kota Manchester yang sebenernya diperuntukan untuk memperoleh suara bagi terlangsungnnya Olimpiade 2000 dimana Manchester kalah dari Sydney, dan akhirnya diteruskan pembangunannya untuk Commonwealth Games. Setelah itu, akhirnya digunakan oleh Manchester City yang pindah dari Maine Road dengan mengontrak stadion ini selama 250 tahun. Stadion yang mampu menampung 47.726 orang ini menduduki sebagai stadion terbesar ke-4 Divisi Premiership. Di depan stadion berdiri patung tertinggi di Inggris yang bernama B of The Bang, dibangun dalam rangka Commonwealth Games. Bulan September 2006 kemarin ini, Manchester City memperoleh ijin untuk membangun sebuah turbin angin raksasa berukuran 85 meter dan akan menjadikan stadion ini sebagai yang pertama di dunia yang dilengkapi dengan turbinnya sendiri.

Sisa dari stadion yang ada di Premiership ini seperti Villa Park yang dimiliki oleh Aston Villa berkapasitas 42.573 orang, Everton dengan Goodison Park-nya 40.569, White Hart Lane di London, kandang dari Tottenham Hotspurs yang mempunyai daya tampung 36.240, Upton Park atau dikenal juga dengan Boleyn Ground milik West Ham United, Middlesbrough dengan Riverside Stadium, Sheffield United dengan Bramall Lane, Bolton Wanderers dengan Reebok Stadium, The Valley kepunyaan Charlton Athletic, JJB Stadium Wigan Athletic, Madejski Stadium yang diambil dari nama chairman Reading, John Madejski, Craven Cottage yang dimilik oleh Moh. Al-Fayed dengan Fulham, dan Vicarage Road, Watford.
Stadion-stadion ini tidak hanya dilengkapi dengan fasilitas menonton sepakbola yang baik, namun juga didukung oleh fasilitas pendukung seperti training ground untuk melatih talenta-talenta muda yang akan menjadi tulang punggung bagi klub masing-masing suatu saat nanti.

Ironis memang membandingkan stadion yang ada di Inggris dengan di tanah air, dimana kepemilikan stadion bukan menjadi hal yang standard bagi sebuah klub sepakbola di Indonesia. Memang untuk membuat stadion yang sangatlah mahal, namun apabila sebuah klub sepakbola tidak mempunyai tempat latihan untuk mengasah kemampuannya, dan hanya mengandalkan sewa lapangan yang belum tentu bisa setiap saat dipakai dan kadang atau bahkan sering harus mengalah kepada event atau orang tertentu…. Nampaknya niatan untuk berbicara di dunia internasional masih menjadi sebuah mimpi yang masih jauh dari kenyataan. Namun seperti pepatah lama mengatakan ada niat pasti ada jalan. Jangan patah semangat sepakbola Indonesia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar